Sejarah Negeri Booi


  • SAWAHIL; negeri lama orang Booi
Pada mulanya masyarakat negeri Booi (tradisional) adalah perpaduan dari rumpun suku SIWA dan rumpun suku LIMA, yang berasal dari pulau Seram. Tetapi kemudian dalam penelusuran sejarah kemudian, ada pengakuan yang kuat bahwa mereka (masyarakat pertama yang menguasai negeri Booi sekarang) berasal dari NUNUSAKU NUNU WAE SANE yang adalah tempat tinggal salah satu rumpun suku SIWA. Adapun alasan ini dapat dijelaskan dalam sejarah negeri Booi bahwa salah satu sub suku SIWA ini, awalnya menyinggahi dengan perahu kora-kora mereka, di pantai yang bernama HATURISSA (sekarang menjadi salah satu pantai yang ada di negeri Booi); yang artinya “BATU PERANG”.

Di HATURISSA mereka berperang dengan orang-orang yang lebih dahulu telah menguasai tempat itu, yaitu mereka yang berasal dari rumpun sub suku LIMA, yang juga berasal dari pulau SERAM (dua rumpun suku ini, sejak dari pulau SERAM tidak pernah akur dan sering terlibat dalam perang). Namun kemenangan selalu ada di pihak sub suku SIWA, maka rumpun sub suku LIMA akhirnya mengajak bersekutu dan mereka berdamai; sehingga bermufakat untuk mencari tempat di atas gunung yang aman, sebagai tempat tinggal mereka (Semenjak dari situ sub suku LIMA tunduk di bawah kekuasaan sub suku SIWA dalam berbagai hal). 

Lalu mereka naik di atas sebuah batu karang yang besar dan ada suatu tempat yang datar, dan dari tempat itu pula, mereka dapat melihat kesegala jurusan laut yang jauh. Sedangkan di bagian belakang dataran yang luas ini terlindung dengan batu karang yang besar-besar yang tidak mungkin ditembusi oleh musuh manapun. Tempat itu adalah SAWAHIL namanya, yaitu negeri lama negeri Booi sekarang.

SAWAHIL (yang artinya : SATU SAJA) sebagaimana namanya, dikarenakan hanya ada satu pintu untuk masuk dan satu pintu untuk keluar dari bagian belakang, sudah pasti negeri ini sangat sulit untuk ditembusi oleh siapapun (musuh). Bagian pintu masuk namanya Amann O Wonnyo. Amann o; artinya “Negeri Sedang” (rupa-rupanya dahulu bagian pintu depan ada delegasi khusus yang ditempatkan untuk menjaganya), dan Wonnyo; yang artinya “Muka Negeri”. Pintu belakang bernama Seitol; artinya Muka Pisau. Lalu mereka mengangkat seorang yang dianggap cakap, untuk mengatur mereka secara adat istiadat yang dianutnya, agar mereka hidup rukun, dan tidak bermusuh-musuhan, namanya : AMANNO PUNNYO yang artinya “Tua negeri”.

  • Waiye; seorang pertama yang bergelar Patti di Sawahil
Sekitar tahun 1630, datanglah orang VOC  (Vereenigde Oostindische Compagnie) Hindia Belanda dan mereka menemukan negeri Sawahil lewat asap yang mereka lihat dari kapal, dan orang-orang kulit putih itu mulai mendarat di HATURISSA, dan terjadilah peperangan di sana (HATURISSA menjadi tempat peperangan terbesar kedua bagi masyarakat Sawahil melawan orang VOC). Adapun perang itu, masyarakat Sawahil kalah karena terbatas  dalam persenjataan, dan mereka harus takluk di bawah perintah VOC.

Setelah perang usai, diperintahkanlah orang Sawahil supaya kepala atau tuan negeri mereka, harus turun ke pantai dan bertemu dengan kapitein kapal VOC. Setelah perintah ini disampaikan dan di bahas dalam rapat saniri negeri Sawahil, maka rakyat Sawahil melarang keras agar AMANNO PUNNYO mereka tidak bertemu langsung dengan orang-orang kulit putih itu. Dengan demikian taktik yang diusung rakyat Sawahil yaitu menentukan seseorang yang telah dianggap sebagai adiknya sendiri (oleh AMANNO PUNNYO), namanya Waiye. Waiye badannya penuh dengan penyakit “kaskadu”, dan “naumang” (ini tipe penyakit kulit yang kronis), dengan alasan terselubung tanpa di ketahui oleh Waiye, bilamana dalam pertemuannya dengan orang-orang kulit putih dan ia dibunuh, tidak menjadi masalah besar bagi orang Sawahil. Asal saja, jangan “tua negeri” mereka yang mati. 

Maka Waiye diantar turun ke pantai Noesallo; artinya tidak ada tempat, bertemu orang-orang (VOC) itu di sana. Setelah tiba di pantai Noesallo (sekarang bernama pantai Noesall), ia di sambut naik ke kapal. Sampai di kapal kaptein kapal memberikan kepadanya sebuah "kepala tongkat besi" serta "kain berang", dll, dan katanya: “bawalah dia turun, karena sudah diangkat jadi perentah Lete Amann” yang artinya: “Dia Harus Perintah/Pimpin Rakyat Sawahil”, dan tidak boleh bermusuhan dengan orang kulit putih/VOC. Lalu Waiye naik duduk dengan memakai kain berang di kepalanya di atas tandu, dan diantar oleh kapitan-kapitan naik ke SAWAHIL. 

Setelah sampai diatas, disambut oleh rakyat SAWAHIL dengan gembira, sebab saudara laki-laki AMANNO PUNNYO telah kembali dengan selamat. Namun sekembalinya Waiye telah diberikan kekuasaan dari orang-orang kulit putih yang juga menjadi tanda atas suatu perjanjian besar, bahwa telah terjalin sekutu antara orang SAWAHIL dengan orang-orang kulit putih yang kuat itu, karena Waiye telah diberikan pengakuan sebagai "tua negeri" yang baru versi orang VOC. Maka Waiye di bawa ke Baeleo “Astana Sitanala Palemahu”. Dan dia ceritakan apa yang terjadi pada dirinya, dan mulai dari saat itu, Waiye mendapat gelar PATTI. Sedangkan kakaknya yang bernama MATAWAEL (Amanno Punnyo yang lama) tetap menjadi tuan negeri yang mengatur petuanan dan hutan.

  • PATTIASINAR; Raja negeri Booi dan sejarahnya
Di suatu waktu datang kembali sebuah kapal perang VOC, dan berlabu di pelabuhan NOESALLO dan memerintahkan PATTI WAIYE turun ke kapal. Ia mendapat perintah supaya pada hari yang telah ditentukan oleh Kapitein VOC, tiga hari setelah perintah disampaikan Waiye diharuskan bersama rakyat Sawahil untuk turun ke pantai, dengan maksud untuk dipermandikan. Perintah itu sebelum dijalankan, diadakan rapat saniri negeri dan memutuskan seluruh rakyat Sawahil turun ke pantai, dan berkumpul di atas pasir putih di muka sebuah batu besar yang telah ditetapkan. 

Lalu turun dari kapal seorang pendeta bernama : ARNOLDUS DE VLAMEIN. Dan dipermandikanlah PATTI WAIYE, dan kemudian diikuti seluruh rakyatnya. Maka nama dari pendeta tadi diberikan kepada PATTI WAIYE, sehingga namanya diganti dengan nama ARNOLDUS DE PATTI A. Dan pada waktu itu juga ada perintah kedua, ialah "ARNOLDUS DE PATTI A" resmi menjadi raja atas rakyatnya, dan harus mencari tempat negeri baru sebagai negeri defenitif karena rakyat Sawahil telah resmi menjadi aliansi dari orang VOC. Karena negeri Sawahil terlalu susah untuk didatangi oleh petugas pekabar injil VOC, untuk diadakan pekebaran injil.

Maka perintah itu dijalankan dengan mengumpulkan seluruh rakyat dan membicarakan persoalan tersebut. Kemudian ditetapkan tiga (3) orang wanita ialah : INA LILI (nona Lili), INA BO (nona Bo) dan INA OI (nona Oi) dengan ketentuan-ketentuan yang sudah diamanatkan rapat saniri negeri bagi ketiga nona ini; dimana hari yang telah ditentukan keluarlah tiga nona tersebut dengan bersenjatakan anak panah dan busurnya. Ina LILI keluar dari pintu muka, menyusuri ke pantai dan tidak kembali, sedangkan Ina Bo dan Ina Oi, keluar pintu belakang dan berjalan terus ke daerah Benteng (tempat pertahanan). Setelah tiba di sana, berbicaralah kedua nona ini, bagaimana cara keduanya, mau menentukan lokasi yang baik sebagai tempat negeri baru. Setelah berdiskusi keduanya melepaskan anak pana keduanya menuju ke pantai, kemudian kedua nona ini berjalan terus ke pantai dan harus mencari anak panah mereka masing-masing.

Secara alami, satu anak panahnya jatuh di WAELORUNNYO dan satu yang lain jatuh di kaki sungai WAE ILO ILOWANNYO. Setelah masing-masing mendapatkan anak panahnya lalu yang satu menuju ke selatan, yang satu menuju ke utara, dan berjumpa di tengah sebagai pusat negeri baru. Itulah cara kedua nona ini menetapkan lokasi sebagai bakal negeri rakyat Sawahil yang baru. Setelah lama mencari anak panah masing-masing, kedua nona ini akhirnya bertemu di pusat lokasi tempat anak panah milik nona-nona ini ditemukan, karena lokasi itu belum ada penghuninya, hendak berpapasan, melihat sesorang dan menanyakan secara spontan; “Ale sei ya”? (ose siapa/siapakah kamu?), lalu dijawab oleh ina Oi, “Au ina Oi. Lalu ditanya pula oleh ina Oi, Ale sei ya? Lalu di jawab; Au ina Bo. Lalu keduanya mendekati satu dengan yang lain dan saling berpelukan, karena mereka telah berhasil sesuai dengan rencana mereka berdua. 

Berdiskusilah mereka, bagaimana caranya melaporkan kepada PATTI A dan juga dihadapan saniri negeri. Setelah itu mereka kembali dengan riang, karena “sebuah negeri raja (Patti a), idaman semua orang ”, atau dalam bahasa tanah AMI LEU LETTE AMANNO LEPA HE UPU PATTIASINAR SAMAHU AMANNO PETTI telah berhasil mereka temukan. Lalu keduanya naik ke gunung, dan memberitahukan kepada PATTI A dari hasil kerja keras mereka. 

Setelah itu terjadi rapat saniri negeri bersama PATTI A yang diadakan khusus dan ditetapkanlah waktu yang tepat agar seluruh rakyat Sawahil membersihkan dan mengatur negeri yang baru tersebut; dan lewat rapat saniri negeri itu pula, sebuah kesepakatan bersama, dengan hasil kerja dua nona ini karena sungguh amat baik adanya dari hasil yang ceritakan oleh keduannya, Maka lokasi negeri baru ini diatur dengan pembagian, kintal/lokasi tempat masing-masing. Sebagaimana negeri baru sudah tertata, maka datanglah orang kulit putih mengunjungi negeri baru ini dan menanyakan, siapa yang mencari kedudukan negeri ini. Lalu dijawab oleh orang Sawahil, bahwa yang mencari kedudukan posisi negeri ini ialah INA BO dan INA OI. Maka nama kedua nona ini diberikan kepada nama negeri baru ini ialah BOOI yang di sertai dengan gelar negeri “SOUMAHU AMANNO LATU/PATTI” yang artinya : “terbahasakan telah ada negeri raja”
Barulah kemudian terjadi pembangunan infra struktur tradisional lainnya seperti rumah sekolah, kemudian rumah gereja, sedangkan yang pertama sekali yang dibuat adalah rumah adat yang dengan sebutan “ASTANA SITANALA PALEMAHU dan batu PAMALE yang berada tepat di sebelah timur.

Perlu di jelaskan pula, sebagaimana di sebut PATTIASINAR, dalam kalimat “AMI LEU LETTE AMANNO LEPA HE UPU PATTIASINAR SAMAHU AMANNO PETTI” di atas, adalah nama raja pertama negeri Booi yaitu ARNODUS DE PATTI A dengan gelar PATTI A, dan menurut orang Booi sebagaimana jasanya sebagai orang pertama yang membawa kebenaran injil bagi mereka, maka mereka menambahkan kata “SINAR” dikemudian hari yang sudah terpengaruh kebudayaan melayu dan juga budaya injil atas mereka, maka PATTI A ditambahkan kata SINAR; yang artinya "pertama membawah terang/cahaya". Sehingga PATTIASINAR kemudian dikenal hingga kini, yaitu PATTIASINA sebagai marga raja di negeri Booi, inipun telah mengalami pergeseran lafalan sehingga huruf “R” telah hilang dari marga PATTIASINAR yang sebenarnya, dan kini menjadi PATTIASINA. sekian..!!!    

  • Catatan Narasumber
Demikianlah sejarah singkat negeri BOOI, yang terkutip data-data mentahnya dari beberapa tokoh penting masyarakat negeri Booi (sudah almarhum semuanya), dan diarsipkan oleh DOMINGUS ANTHONI NANULAITTA (yang berusia 78 tahun di tahun 2010), sebagai narasumber penulis. Perlu disampaikan pula dalam post saya kal ini, catatan riwayat pengabdian beliau di negeri Booi; Yaitu pernah menjabat sekretaris Negeri Booi selama 34 tahun, terhitung mulai 1 Januari 1957, menjabat sebagai PEJABAT SEMENTARA 2 tahun, dan menjabat sebagai Raja Negeri Booi 10 tahun tertanggal 29 Agustus 1991 -2000. 
Sebagai yang diberikan kepercayaan untuk menarasikan kembali catatan sejarah Negeri BOOI, maka saya mengucapkan terima kasih untuk kepercayaan dari Bapak DOMINGGUS ANTHONI NANULAITTA terkait dengan kepercayaan tersebut.  
Untuk itu dengan ketersediaan sejarah negeri Booi ini, semoga bermanfaat bagi anda sekalian yang benar-benar membutuhkan tulisan ini. Dengan harapan bersama, bahwa kita sekalian bisa menghargai dasar-dasar histori sebagai orang Booi, yang memiliki keunikannya secara historis dan juga dalam konteks kekiniaanya. [BB kio!!!]   




     

4 komentar:

Roynald Obed Hehanussa mengatakan...

Beta anak cucu Negeri BOOI Samahu Amalatu, Danke banya katong bisa tau katong punya sejarah Negeri.

Abe Nanu mengatakan...

Terimakasih bung... Ini bagus buat katong yg lahir dan besar di luar Maluku.

bertoteknik mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
bertoteknik mengatakan...

Terima kasih jua om...beta ini PATTIASINA, tapi baru skali pulang ke BOOI, terima kasih lai dengan tulisan ini beta yang jauh ini bisa mengetahui asal-usul beta pung leluhur.

Poskan Komentar